Seri Hadits

Seri Menulis

Seri Ibadah

Minggu, 31 Januari 2010

Belajar Iqra Bersama Khalil

Seagian orang mungkin beranggapan bahwa mengajarkan huruf hijaiyah, lebih khusus lagi belajar Iqra, kepada anak usia 2 tahun adalah terlalu dini. Hal itu tidak sepenuhnya benar. Memang tidak semudah mengajarkan anak yang sudah lebih tua usianya, dan juga butuh kesabaran ekstra. Setidaknya itu yang kami alami bersama Khalil. Saya ingin membagi pengalaman belajar bersama Khalil dan kakak-kakaknya dengan anda, khususnya bagi anda yang memiliki anak-anak seusia Khalil pada saat memulai, mudah-mudahan bisa memberikan manfaat.

Pertama kali belajar Khalil sangat sulit untuk menghafal huruf. Hanya untuk menyelesaikan halaman pertama buku Iqra 1 dia membutuhkan waktu sekitar tiga minggu, bahkan mungkin hampir sebulan. Alhamdulillah, setelah selesai bacaan pada halaman pertama, halaman berikutnya menjadi sangat mudah bagi Khalil. Dia melewatkannya tanpa kesulitan yang berarti, apalagi ditunjang dengan permainan Bingo Game Hijaiyah yang sering dimainkannya bersama kakaknya. Dia sangat gembira karena merasa mampu, sehingga hampir setiap hari baik pagi, siang atau malam dia membawa bukunya kemana-mana dan mengulang bacaannya.

Berpindah ke Iqra 2 dengan huruf yang mulai bersambung, Khalil kembali menemui kesulitan. Ketika mulai membaca dia selalu mengeluh karena bacaannya yang sulit dan membuatnya sedih karena tidak dapat membaca. Lebih dari semingguseminggu seperti itu, akhirnya saya memutuskan untuk membuatkannya sebuah lembar iqra yang dapat dibawanya sambil bermain bersama kakaknya.
Dengan metode di atas, Khalil menjadi lebih mudah untuk mengenali huruf-huruf bersambung. Alhamdulillah, tidak lama setelah itu dia dapat kembali membaca Iqra 2 dengan lancar. Dan itu terus berlangsung sampai sekarang. Khalil sudah hampir menamatkan Iqra 5 nya. Tidak seluruhnya mudah, akan tetapi rasa ingin tahunya yang besar dan iming-iming dapat mengaji di Qur’an besar seperti kakaknya membuat dia terus berusaha..
Melihat perkembangan yang dialami dalam belajar, baik Khalil maupun kedua kakaknya, ada beberapa pelajaran yang menjadi catatan saya:
  1. Mengajarkan anak-anak mengaji di rumah secara bersama dengan saudara-saudaranya lebih efektif dibanding dengan mengirim mereka ke TPA. Motivasi utama yang mendorong Khalil terus berusaha adalah karena kegiatan itu menjadi semacam lomba bagi ketiganya (Khalil 3,5 th, Aulia 5th, Rizki 7.5 th) untuk menunjukkan kemampuan kepada seluruh keluarga. Menjadi kebanggan tersendiri jika mereka berhasil pindah ke halaman berikutnya. Selain itu mengajarkan mereka mengaji di rumah akan lebih fokus, dibandingkan dengan TPA karena biasanya muridnya lebih banyak sehingga perhatian ustadz/ustadzah terhadap perkembangan masing-masing anak pun lebih sedikit.
  2. 2. Sebaiknya sejak awal anak-anak dilatih untuk mengucapkan makhraj huruf dengan benar, karena kessalahan dari awal akan terbawa-bawa hingga mereka dewasa. Dan jika itu terjadi akan lebih sulit mengoreksinya. Jangan mentolerir makhraj yang salah kecuali untuk kasus tertentu, sseperti anak-anak dengan lidah cadel sering kesulitan melafalkan huruf ر , meski demikian tetap diingatkan dan selalu diulang bagi mereka bagaimana lafal yang benar, dan mereka menyadari kesalahan mereka meskipun memang masih sukar untuk melafalkannya. Hal yang sama berlaku untuk dasar-dasar tajwid, meskipun pengajaran tajwid pada anak lebih banyak kelonggaran sesuai dengan kondisi masing-masing anak.
  3.  Sebaiknya tidak terburu-buru mengoreksi anak jika mereka keliru membaca. Misalnya seharunya ث tetapi dibaca ش atau huruf-huruf yang tempat keluar hurufnya serupa. Khalil seringkali melakukan hal ini. Setelah ditanyakan mana yang benar, akhirnya dia menyadari dan mengoreksi sendiri kesalahannya. (Biasanya saya tidak langsung membenarkan tapi bertanya sampai tiga kali untuk memastikan dia sungguh mengetahui bacaan yang benar dan bukan karena rekaan saja). 
  4. Hal yang sama juga berlaku untuk bacaan dengan mad, atau dalam membedakan bacaan yang panjang dan pendek. Kadang-kadang meskipun bacaannya benar, saya akan kembali bertanya, mengapa مَا atau قِيْ atau نُوْنَ dibaca panjang untuk menguji pemahamannya. Alhamdulillah dia bisa menjawab dengan baik, فِيْ dibaca panjang karena di depannya ada ya sukun, dan seterusnya. Hal-hal itu, dengan penjelasan yang sederhana untuk anak seusia Khalil akan lebih mudah dipahami.
  5. Sebaiknya tidak mengikuti keinginan anak untuk berpindah ke halaman berikutnya jika dia belum lancar membacanya. Bagian ini agak sulit, karena terkadang anak-anak justru ‘mogok’ atau menangis. Hal yang sama terjadi pada Khalil. Sekali lagi penjelasan sederhana dibutuhkan untuk bisa dipahami oleh anak seusia itu. Dengan penjelasan hati-hati akhirnya dia bisa memahami, meskipun dengan rupa sangat sedih. Tidak tega memang, tapi itu harus dilakukan agar anak dispilin.
Saya teringat kejadian itu dengan Khalil, ketika dia sangat kesulitan untuk membedakan panjang pendek bacaan, selama hampir seminggu dia tetap di halaman yang sama. Malam itu dia keluar ke ruang tengah dengan murung sambil memegang Iqranya. Neneknya iba melihatnya, karena biasanya dia selalu bersemangat setelah membaca iqra, dan langsung memamerkan perkembangannya pada seisi rumah. Ketika ditanya mengapa Khalil belum pindah, dengan murung dan dan mata berair dia menjawab, “karena belum bisa panjang pendeknya...” Gara-gara tidak tega melihat cucunya, ibuku langsung mendesakku untuk membolehkan dia pindah ke halaman berikutnya

Tapi alhamdulillah, setelah kejadian itu dia justru lebih mudah untuk diberi pengertian, hanya boleh berpindah jika bacaannya sudah lebih baik.

Cara belajar yang disajikan di sini hanyalah contoh kasus yang saya ajarkan pada Rizki, Aulia dan Khalil, dan Alhamdulillah sejauh ini bisa dikatakan cukup efektif. Untuk Rizki (7 th) hampir tidak ada masalah, sejak awal dia bisa belajar dengan lancar dan fasih, Aulia (5 th) cepat memahami namun kurang fasih karena pengaruh nafas yang pendek dan agak kaku dalam penyebutan huruf tertentu dan demikian juga dengan Khalil (3,5 th), meskipun untuk Khalil harus lebih sering diulang dan diingatkan. Cara ini belum tentu efektif untuk anak-anak lainnya, karena setiap anak mempunyai karakter dan tingkat kesiapan menerima pelajaran yang berbeda-beda. Namun apapun metode yang anda pilih, yang perlu diingat adalah anak-anak bukan tidak bisa diajari sejak dini, mereka hanya perlu metode yang tepat agar mereka bisa memiliki kesiapan untuk belajar dan memahami apa yang telah mereka pelajari. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Ummu Abdillah al-Buthoniyyah untuk BAM

3 comments:

Ahmad Saadillah mengatakan...

salam kenal admin blog

Redaksi mengatakan...

salam kenal kembali, syukran kunjungannya

syameela mengatakan...

jazakumullah khair

Poskan Komentar