Seri Hadits

Seri Menulis

Seri Ibadah

Selasa, 23 Februari 2010

Berhemat dalam Belajar dan Mengajar


Dari beberapa pengalaman, ada orang tua yang ketika belajar bersama anak-anak di rumah lebih memilih untuk memberikan mereka kertas daripada buku, karena pertimbangan praktis dan lebih murah. Jika dihitung berapa penggunaan kertas dalam satu hari, berapa orang anak yang menggunakannya, serta berapa kali melakukan kesalahan sehingga perlu mengganti dengan kertas yang baru.... anda akan lihat bahwa pemakaian kertas pun masih boros. Namun tahukah anda, ada cara yang lebih murah daripada memberikan kertas kosong yang baru kepada anak-anak anda? Ya, kertas bekas!

Dulu ketika masih bekeerja di sebuah proyek emergency pasca tsunami, saya sempat mentertawakan ide gigih seorang kolega asing pemerhati anak-anak, untuk membiarkan anak-anak bercerita mengenai keseharian mereka melalui gambar pada kertas-kertas bekas! 

“Apa kata masyarakat? Saya khawatir mereka akan menganggap kita meremehkan mereka dengan memberi kertas bekas sebagai media gambar bagi anak-anak. Lagipula proyek kita punya dana cukup jika hanya sekedar membeli kertas,” protesku.

“Apa salahnya? Kita justru berhemat, lihat berapa banyak kertas yang kamu buang setiap hari,” sanggahnya. Dan masih banyak lagi alasannya yang tidak terlalu saya perhatikan pada saat itu. Meskipun demikian saya tidak bisa menahan dia menjalankan rencananya, toh itu program dia.

Beberapa tahun setelah itu, saya baru menyadari kebenaran kata-katanya. Ya, apa salahnya menggunakan kertas bekas? Saya teringat sebuah tayangan televisi dimana ada wacana untuk mengurangi penggunaan kertas pada sekolah-sekolah (atau perguruan tinggi), dengan cara setiap tugas dikumpulkan tidak dalam bentuk kertas kerja tetapi dalam bentuk CD atau disket (atau eMail?). Alasannya adalah untuk menekan permintaan akan kertas, karena konon produksi kertas merupakan salah satu faktor terbesar yang menyebabkan pengrusakan hutan dan pembalakan liar untuk memenuhi permintaan akan pulp (bubur kayu).

Ya, alasan lingkungan, dan tentu saja alasan keuangan. Kertas-kertas bekas yang sisinya masih bisa digunakan sebaiknya tidak langsung masuk ke tong sampah. Itu bisa digunakan sebagai media anak-anak berkreasi, sekaligus juga mengajarkan mereka untuk berhemat, dan mencintai lingkungan jika dijelaskan alasan dibalik penggunaan kertas bekas. 

Kami melakukannya di rumah. Kertas-kertas bekas ditumpuk di tempat tersendiri. Untuk kegiatan menggambar, mewarna, menggunting dan menempel kami berikan di kertas bekas. Kecuali untuk bacaan seperti kisah-kisah di cetak dengan ukuran A5 secara timbal balik sehingga 1 lembar A4 bisa memuat 4 lembar eBook. Pemakain kertas bekas untuk eBook sejenis tidak kami anjurkan, karena tentunya tidak nyaman membaca sesuatu lalu diantarai oleh tulisan yang tidak berhubungan sama sekali dengan bacaan di halaman sebelumnya. 

Hal ini pun dapat diterapkan untuk anak-anak di TK, PAUD atau TPA dan lainnya untuk jenis kegiatan dimaksud, seperti yang pernah kami lakukan. Ketika melihat saya datang dengan membawa setumpuk lembar mewarnai huruf di balik kertas bekas, seorang pengelola PAUD langsung komentar...”Iya juga ya... kemarin-kemarin banyak sekali kertas yang digunakan untuk kegiatan anak-anak ini, padahal dana kita sangat terbatas.” Nah..!

Alhamdulillah, di rumah anak-anak sudah paham, jika mereka ingin bermain, mereka akan datang meminta kertas bekas. Jika mendapati kertas kosong, mereka akan bertanya, “Ini boleh?” 

Rasanya di rumah jadi kekurangan kertas bekas, sepertinya harus impor dari kantor-kantor nih.....

0 comments:

Posting Komentar