Seri Hadits

Seri Menulis

Seri Ibadah

Senin, 21 Juni 2010

Membaca di Usia Dini... Kenapa Tidak?

Alhamdulillah... takjub juga melihat Aulia dan Khalil sudah pandai membaca. Padahal sejak pertama kali mengajari mereka akhir tahun lalu, tidak terbayang mereka dapat membaca secepat itu. Dan yang paling mengesankan adalah kami hanya mengajari pada tahap awal, dan sisanya mereka berusaha sendiri dengan berbagai cara yang mereka senangi. Bisa dibilang, 60-70% kemampuan mereka membaca, dengan kemudahan dari Allah - datang dari usaha mereka sendiri.

Para pakar dan peneliti mengatakan bahwa anak-anak baru dapat membaca dengan baik pada usia 5 – 6 tahun. Khalil menjadi istimewa karena bisa membaca dengan baik ketika berusia 3.5 tahun, tidak hanya huruf latin, akan tetapi juga membaca al-Qur’an, meskipun untuk yang terakhir ini dia harus benar-benar mendapat perhatian, karena lebih sering tidak teliti. Sehingga setiap kali mulai membaca, yang pertama ditekankan adalah ‘teliti’, ‘perlahan-lahan’, ‘panjang dibaca panjang dan yang pendek dibaca pendek’, dan seterusnya.

Kemampuan anak-anak membaca di usia ini tidak datang dengan sendirinya, atau melalui instruksi khusus. Yang pertama kali diperkenalkan kepada mereka jauh sebelumnya adalah kebiasaan membaca. Sejak berusia dua tahun (bahkan kurang dari itu), kepada mereka seringkali dibacakan kisah. Itu adalah bagian yang paling menyenangkan buat mereka sampai sekarang, mendengarkan kisah dari buku-buku mereka. Dan buku favorit mereka adalah ‘Kisah Ada (Kadal) dan Odo (Komodo)”. Lambat laun mereka menjadi termotivasi untuk dapat membacanya sendiri. Kadang-kadang buku cerita mereka amati gambarnya halaman demi halaman, sambil mengingat-ingat kisah pada setiap halaman itu, dan memperbicangkannya antara mereka berdua. Karena kegiatan itu, bahkan buku kesayangan mereka pun menjadi lusuh dan tak berbentuk.

Kemauan yang datang dari anak sendiri untuk belajar membaca menjadikan lebih mudah untuk mengajari mereka. Kami hanya menyiapkan materi dan mengajari mereka pada tahap awal, di tambah dengan balok-balok huruf dan angka untuk mereka bermain menyusun kata. Sisanya... mereka melakukannya sendiri. Metode pengajaran yang kami lakukan bisa dibaca di sini

Setelah melalui tahap pengenalan huruf dan bagaimana huruf-huruf bisa digabungkan menjadi sebuah kata, yang dilakukan anggota keluarga yang lain di waktu senggang adalah meminta mereka menyusun huruf menjadi suku kata atau kata yang sederhana. Atau menyusun beberapa huruf dan meminta mereka menyebutkan huruf dan mengejanya. Itu menjadi permainan yang mengasyikkan buat mereka. Dan Aulia adalah juaranya!

Biarkan si Kakak mengajari Adiknya

Kemampuan Aulia membaca lebih dulu dari adiknya membuat dia merasa bangga.. Aulia memang berbeda. Dia dapat belajar dengan cepat, namun sekaligus sangat sensitif, sehingga jika dia diminta mengulang beberapa kali karena melakukan kesalahan, dia akan berhenti belajar dan air matanya mulai berjatuhan, menangis tanpa suara! 

Sisi yang sangat positif, kemampuan dia membaca lebih dulu membuatnya bangga dan superior sebagai seorang kakak, yang kemudian ditunjukkan kepada adiknya dengan cara mengajarinya. Sebagian besar dari apa yang diketahui Khalil adalah hasil meniru dan belajar dari kakaknya, termasuk membaca. Kadang-kadang kami harus turun tangan, karena caranya mengajari adiknya lumayan keras. Khalil seringkali dimarahinya bila salah mengeja sebuah kata, membuat adiknya menangis. Meskipun begitu si adik bukannya kapok, tapi terus mengikuti instruksi kakaknya. Walhasil, alhamdulillah.... Beberapa waktu kemudian Aulia dengan bangga memamerkan hasil usaha mereka, memberitahu seisi rumah bahwa adiknya sudah dapat membaca!

Tidak ada instruksi khusus atau kewajiban atau paksaan atau perintah, atau waktu yang dikhususkan untuk mendampingi mereka belajar. Anak-anak belajar karena mereka menginginkannya. Dan mereka melakukannya sambil bermain, di sela-sela iklan kartun kesayangan mereka. Bahkan pada beberapa kesempatan, kegiatan belajar tersebut mampu mengalihkan perhatian mereka dari layar kaca. 

Apa yang menjadi pelajaran berharga bagi kami, yang pertama kali harus dibangun adalah minat anak. Bahwa apa yang mereka lakukan itu berguna untuk diri mereka sendiri. Jika minat itu ada.. insya Allah segalanya akan menjadi lebih mudah.

3 comments:

Ummu Yumna mengatakan...

Barokallohufikum...
Ana juga pny target Yumna sudah bisa membaca di usia 3th, krn ana ingin ketika menginjak usia 5 tahun Yumna mulai serius dgn hafalan Al-Quran dan Hadits, tdk begitu disibukkkan dgn calistung (krn dia sdh hrs mampu menguasainya sblm usia 5tahun).
Saat ini usia Yumna 2 tahun 5 bulan, Yumna sudah menguasai semua abjad dr A-Z dgn font apa-pun dan baik posisi normal maupun terbalik,baik dr jauh maupun dekat,
Yumna juga sudah menyelesaikan IQRA' 1 (namun msh perlu murojaah terus menerus), bbrp surat pendek sudah hafal plus ayat kursi,5 ayat pertama al-baqoroh dan al hadid ayat 20(yg ini krn ketularan ana,krn ini ayat favorit ana)
Tadinya ana tdk "ngeh" ketika usianya pas 2 tahun tiba2 Yumna menunjukkan ke poster abjad yg ana tempel di dinding dan memberitahu ana, "Ummi ini O" hah? ana kaget sekali lantas ana tes bbrp huruf yg lain,ternyata dia jg hafal A dan Z,pdhl 24 jam kami melewati hari berdua,tp ana tdk tahu jika anak seusia itu sudah bs menguasai kecerdasan yg luar biasa(bagi ana),
ternyata Yumna hafal dgn wasilah kaset abjad yg ana putarkan sejak dia usia 1 tahun (note: Yumna tdk nonton TV "at all" jd setiap hr dia hanya menonton koleksi kaset yg kami sediakan untuknya)
Sungguh segala puji hanyalah milik Alloh,
benar Umm, kecerdasan mereka adalah kemudahan dan nikmat dr Alloh,jk kita tdk mengarahkannya dgn baik alangkah celaka kita kelak di hadapan-NYA,
Semoga mereka bs menjadi generasi yg sholih&sholihat,yg akan menjadi aset berharga bagi Umat...
Amin...

Admin mengatakan...

wafikum barakallah... amin..

Kholil Al Qusyairi mengatakan...

idzin sedot ilmunya buat referensi untuk mendidik ponaan

Posting Komentar